Postingan

Islam Tidak Memusuhi Kebudayaan Lokal

Gambar
Ulil Abshar Abdalla, di UIN Sunan Ampel Surabaya Saat ini manusia yang hanya memikirkan fisik dan material saja. Padahal dalam menjalani kehidupan di dunia ini seharusnya juga memandang sesuatu yang tidak nampak atau dengan kacamata pandangan spiritual. Hal itu disampaikan oleh cendekiawan muda NU KH Ulil Abshar Abdalla atau biasa dikenal dengan panggilan Gus Ulil di awal kegiatan Studium General  Manusia Rohani dan Masa Depan Peradaban Islam  yang diselenggarakan oleh Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya pada Selasa (16/4). Kegiatan yang bertempat di Masjid Raya Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya ini sangat menarik perhatian berbagai elemen masyarakat, terbukti dengan hadirnya peserta yang tidak dari lingkungan UINSA sendiri, bahkan banyak juga yang berasal dari UINSA. Menurut Gus Ulil, ciri dari manusia rohani adalah selalu memandang dunia dengan dua level, yakni dunia yang nampak dan...

Kajian Demokrasi dan Syirik dalam Al-Qur’an

Gambar
Kajian Demokrasi dan Syirik dalam Al-Qur’an Kita sudah mengetahui bersama bahwa Indonesia didirikan bukan sebagai negara Islam dan bukan berdasarkan sistem pemerintahan Islam, melainkan menggunakan sistem demokrasi. Akhir-akhir ini, ada sebagian kelompok yang menganggap bahwa menjalankan hukum dan sistem pemerintahan dengan hukum dan sistem lain selain hukum Allah SWT juga termasuk syirik, seperti sistem demokrasi di Indonesia. Bahkan penerapan hukum di luar hukum disebut sebagai syirik akbar. Sedangkan para penganut syirik akbar ini dianggap batal syahadatnya, bahkan sudah disebut kafir. Salah satu ayat yang digunakan adalah Surat Al-Kahfi ayat 26. وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا Artinya, “Dan Allah tidak menyekutukan dalam ‘hukum’-Nya pada seorang pun.” Ayat ini menjadi pegangan oleh salah satu terpidana terorisme yang telah dijatuhi hukuman mati, Aman Abdurrahman, untuk melakukan kekerasan dan terorisme. Ayat di atas dipahami oleh kelo...

Inti Agama Islam pada Pengagungan Allah dan Kasih Sayang

Gambar
(Foto: @tnews.co.th) Sebagaimana telah maklum bahwa ajaran Islam sangat komplek dan mencakup segala bidang dan sendi kehidupan umat manusia. Tak ada perilaku manusia sekecil apapun itu kecuali Islam telah mengatur dan menetapkan ketentuannya. Islam mengatur masalah aqidah, hukum, pergaulan dengan sesama manusia, hingga persoalan bagaimana sebaiknya seseorang menjalani tidurnya. Semuanya diatur dengan sangat detail oleh Islam. Untuk itu semua 30 juz ayat Allah telah diturunkan, ribuan hadits Rasulullah telah terkodifikasi, dan ajaran para ulama telah tertulis pada ribuan atau bahkan jutaan judul buku yang berjilid-jilid. Namun demikian bila dicermati lebih jauh ajaran Islam yang begitu kompleksnya sesungguhnya, di bidang apapun, semuanya tidak lepas dan hanya terangkum dalam dua hal. Kedua hal itu adalah mengagungkan Allah subhânahû wa ta’âlâ dan berlaku kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Simpulan ini banyak disampaikan oleh para ulama semisal Syekh Muhammad...

Keterlibatan Masyarakat dalam Pemilu, Perkuat Fungsi Kontrol terhadap Pemerintah

Gambar
Wakil Rais Syuriyah PWNU Provinsi Lampung KH. Khairuddin Tahmid menjelaskan bahwa pemilu dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil rakyat yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi dan kepentingan bersama dan dapat dilakukan dengan beberapa alternatif metode yang diatur undang-undang. Penjelasan ini disampaikan Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung ini saat menjadi pemateri pada  Workshop Kampanye Setara dan Damai  dengan tema  Kajian Kritis Tentang Makna para Tokoh Menyatakan Sebagai Calon Gubernur Sebelum ada Penetapan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung Tahun 2018  yang dilaksanakan oleh KPU Lampung di Hotel Emersia Bandarlampung, Rabu (15/11). "Pemilu secara langsung dalam penetapan kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan jika disepakati oleh rakyat, terjamin kemaslahatannya serta terhindar dari mafsadat," jelasnya. Pemilukada lanjutnya merupakan sal...

“Khilafah sebuah kekhilafan”

Gambar
Benar bahwa dalam sumber-sumber klasik ajaran Islam terdapat pembahasan mengenai kewajiban mengangkat seorang  khalifah ,  imam , atau  amir . Namun ini tak berarti bahwa institusi “khilafah” sebagaimana dibayangkan sementara kelompok Islam wajib ditiru secara sama persis. Kewajiban mengangkat khalifah adalah tentang kewajiban mengangkat pemimpin, yang kehadirannya adalah keniscayaan dalam suatu institusi politik. Tentang keniscayaan adanya pemimpin, dan bukan kewajiban mendirikan institusi spesifik bernama “khilafah”,  Dr. Hosen  menyatakan bahwa sumber utama Islam, yakni al-Quran dan hadis, tidak memerinci secara detail dan kaku mengenai cara pemilihan pemimpin dan mekanisme pemerintahan. Menurut  Dr. Hosen , memaksakan sebuah sistem yang dinamai “khilafah” sebagai bagian ajaran Islam yang mutlak merupakan—sebagaimana tajuk seminar itu—“sebuah kekhilafan”. Ini khilaf  pertama  dalam memahami khilafah. ...

Menaati Pemerintah Bukanlah Kekafiran

Gambar
Sebagian kelompok menganggap Indonesia negara kafir karena tidak berpedoman pada hukum Allah. Sehingga, menurut mereka, pemerintah tidak wajib ditaati. Bahkan, menaati pemerintah beserta aturan yang dibuatnya dianggap sebagai bentuk kekafiran. Benarkah demikian ? Dalam Islam, menaati pemimpin merupakan sebuah keharusan dalam beragama dan bernegara. Kewajiban untuk menaati para pemimpin berimplikasi pada ketaatan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Sebagaimana halnya mengikuti seorang pemimpin, maka apa yang menjadi turunan dan manifestasi kebijakannya menjadi sebuah kewajiban juga. Bagi kelompok jihadis menaati Undang-undang merupakan sebuah kekafiran turunan. Dalam bahasa mereka adalah “kafir istihlal”. Term ini diartikan sebagai cara melihat hitam-putih, halal-haram. Pemerintah yang dianggap menghalalkan yang diharamkan Allah, adalah pemerintah kafir. Maka mengikuti undang-undang yang diatur oleh pemerintah tersebut, secara otomatis menjadi kafir. Dalam pandangan mereka, ...

Forum Titik Temu, Upaya Menolak Ekslusivisme dan Kebencian Berlatar Agama

Gambar
Apakah Indonesia bisa berkontribusi untuk perdamaian dunia? Pertanyaan ini yang membuat para ulama dan tokoh agama berkumpul di tengah makin menguatnya prasangka buruk, ujaran kebencian, intoleransi, dan kasus-kasus kekerasan berbasis agama di sejumlah negara. Apalagi, setelah pertemuan Imam Besar Al Azhar, Sayyed Ahmed al Thayeb dengan Pemimpin Gereja Katolik Dunia Paus Fransiskus pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi. Pertemuan yang juga dihadiri sekitar 400 para pemimpin agama-agama di dunia, termasuk pakar tafsir Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab, ini menghasilkan “ Dokumen Persaudaraan Manusia ” yang menegaskan umat manusia di seluruh dunia agar senantiasa membina persahabatan, menjalin persaudaraan, saling menghormati dan tidak mempolitisasi agama untuk kepentingan politik praktis sehingga memecah belah persaudaraan seluruh umat manusia, sebangsa dan setanah air. “Keyakinan bahwa ajaran asli agama-agama mendorong manusia untuk hidup bersama dengan damai, mengharg...