Postingan

Akal Sehat Demokrasi

Gambar
Akal Sehat Demokrasi ala KH A. Wahid Hasyim Dasar dari agama adalah logika.  (KH A. Wahid Hasyim) 19 April 2017 adalah sejarah duka bagi bangsa Indonesia dan warga NU. Salah satu sosok peletak batu pertama NKRI, yaitu Kiai Haji Abdoel Wachid Hasjim atau KH. A. Wahid Hasyim yang tepat enam puluh empat tahun yang lalu, 19 April 1953, berpulang ke Sang Hyang Widhi, setelah luka di kepalanya tidak mampu diatasi. Sejujurnya maksud penulis mengangkat kembali Wahid Hasyim adalah fakta bahwa beliau yang notabene-nya menjadi penentu dan penengah di tiap kali perdebatan vital, sekaligus juga pembawa pesan Islam yang mencerdaskan, layak untuk direfleksikan minimal di tengah ketidakdewasaan berpikir akibat kegagapan demokrasi. Penulis katakan demikian tentunya beberapa pihak mengelak dengan pembelaan ‘kedewasaan demokrasi’. Pertanyaannya, bagaimana mungkin ada apologi seperti itu jika yang terjadi adalah saling klaim kebenaran dan justifikasi kesalahan pihak lain? Bukankah da...

PENYEBAR LUASA RADIKALISME

Waspadai Penyebarluasan Radikalisme Dibungkus Kajian Keagamaan Karimun, NU Online BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kepulauan Riau (Kepri), Rabu (15/8/2018), menggelar kegiatan Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme di Kabupaten Karimun. Selain memberikan pembekalan kepada penyuluh agama, beberapa tips untuk mewaspadai penyebarluasan radikalisme juga disampaikan.  Sekretaris FKPT Kepri, Indra Syah Putra, dalam sambutan pembukaan mengatakan, merebaknya radikalisme di Indonesia diawali dengan dibukanya kran kebebasan pascareformasi,  yang ditandai dengan munculnya sejumlah organisasi kemasyarakatan yang menunjukkan pandangan dan sikap persetujuan terhadap radikalisme. Kelompok itu salah satu cirinya adanya mengenalkan istilah-istilah bernuansa arab dalam aktifitas keagamaannya, di antaranya dawrah, mabit, halaqah dan sejenisnya.  "Satu sisi kegiatan itu bagus, membuka kesempatan masyarakat memperdalam akida...

INDONESIA KURANG ISLAMI APA?

*Indonesia ini Kurang Islami Apa ?* ```Selalu saja ada ustaz yang menjelek-jelekkan negara dan pemerintah. Pemerintah digambarkan anti Islam, menghalangi dakwah, meminggirkan umat Islam, kata mereka. Indonesia punya Kementerian Agama. Anggaran Kemenag tahun 2018 ini 62 T lebih, nomor 3 terbesar setelah Kementerian PUPR (yang tugasnya membangun infrastruktur) dan Kementerian Pertahanan. Anggaran itu lebih tinggi daripada anggaran Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan. Pegawai Kemenag itu umumnya orang Islam. Mungkin ada 90% karyawannya yang muslim, mulai dari menteri sampai ke tukang sapu. Kantornya melayani sampai ke tingkat kecamatan. KUA itu tidak disebut kantor untuk urusan umat Islam. Tapi tidak ada umat agama lain yang dilayani di situ. Itu khusus untuk umat Islam. Setiap tahun ada sekitar 200 ribu umat Islam naik haji. Segenap keperluan mereka dilayani oleh pemerintah. Sejak mulai pendaftaran, persiapan, berangkat, selama di tanah suci, sampai pulang. Ada ribu...

Terorisme Tak Punya Agama dan Budaya

Gambar
Imam Besar Masjidil Haram: Terorisme Tak Punya Agama dan Budaya Syekh Abdurrahman As-Sudais (Foto: Antara) Fathoni,  NU Online  | Rabu, 15 Agustus 2018 09:17 Jakarta,  NU Online Imam Besar Masjidil Haram di Makkah yang juga menjadi Imam Besar Masjid Nabawi di Madinah, Syekh Abdurrahman As-Sudais menekankan bahwa ideologi dan aksi terorisme bertentangan dengan ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang dan toleransi. "Terorisme tidak memiliki agama dan budaya. Namun, ada banyak pihak yang berusaha untuk mengubah citra Islam," kata Syekh As-Sudais dalam pernyataan melalui layanan pesan singkat yang diterima di Jakarta, Selasa (14/8). Syekh melanjutkan bahwa Pemerintah Kerajaan Arab Saudi senantiasa menyampaikan pesan-pesan Islam berdasarkan belas kasihan, toleransi dan koeksistensi, serta mendukung moderasi dan menyoroti citra Muslim yang beradab guna menghalau tuduhan terorisme atas Islam. Kepada sejumlah wartawan dari beberapa negara yang...

Cara Melawan Radikalisme

Gambar
Ini Cara Lawan Radikalisme Menurut Waketum PBNU Waketum PBNU H Maksum Mahfoedz (ketiga dari kiri) saat pembukaan Konbes IPPNU di Yogyakarta, Jumat (27/10) Jakarta,  NU Online Wakil Ketua Umum PBNU H Maksum Mahfoedz berpesan agar IPPNU menjadi garda terdepan melawan radikalisme. “Kita prihatin atas radikalisasi yang ada saat ini, harus kita cegah agar tidak tersebar di kalangan pemuda bangsa,” katanya saat pembukaan Konbes IPPNU di Asrama Haji Yogyakarta, Jumat (27/10). Pria yang juga Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta itu mengungkapkan untuk mencegah radikalisme, IPPNU harus memulainya dengan toleransi antarsesama. ”Dengan cara yang inklusif merangkul seluruh kalangan baik lintas agama, budaya, dan status sosial," jelasnya. Sebelumnya, Menteri Agama, H Lukman Hakim Saifuddin membuka Konbes  yang dihelat selama tiga hari, yakni 27-29 Oktober 2017. Menag Pesan 3 Ha Ini Saat Buka Konbes IPPNU Ketua Umum IPPNU Puti Ha...

Hadapi Gerakan Intoleran Tak Bisa dengan Kekerasan

Gambar
Hadapi Gerakan Intoleran Tak Bisa dengan Kekerasan Semangat masyarakat tidak boleh luntur untuk memerangi gerakan intoleran. Sebab, diam-diam kelompok intoleran terus bergerak menebar propaganda di tengah-tengah masyarakat. Hal tersebut diungkapkan juru bicara Asosiasi Para Gus (Asparagus) Kabupaten Jember, Jawa Timur, H Mudhar kepada  NU Online  di Jember, Ahad (12/8). Menurutnya, sepak terjang gerakan intoleran kian mengkhawatirkan. Mereka menyusup di berbagai lini kehidupan, termasuk di perguruan tinggi. Targetnya adalah menanamkan ideologi yang 'berbeda' dari  kultur masyarakat Indonesia pada umumnya.  “Kalau itu dibiarkan maka akan terjadi konflik horisonal, yang ujung-ujungnya akan menggerus keutuhan NKRI,” tukasnya. Ia mengaku ngeri membayangkan seandainya gerakan intoleran menjadi kekuatan besar di tanah air. Sebab, saat ini saja ketika mereka masih menjadi kekuatan minoritas, sepak terjangnya sudah begitu rupa dan cenderung menghantam k...

Meluruskan Makna Jihad

Meluruskan Makna Jihad Oleh: Misbahul Ulum* Sampai saat ini benih-benih terorisme belum sepenuhnya hilang. Justru, menunjukkan angka kenaikan yang semakin tajam. Sekarang ini, terorisme kian membabi buta. Targetnya tidak lagi perorangan, melainkan sudah merambah ke tempat-tempat peribadatan yang seharusnya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi pemeluk agama untuk beribadah kepada tuhannya. Aksi bom bunuh diri yang meledak di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton pada hari Ahad (25/09/11), adalah salah satu bukti bahwa pemeluk agama lain dan tempat peribadatan juga terancam oleh aski terorisme. <> Setiap terjadi tindakan terorisme baik berupa bom atau yang laiannya, bisa dipastikan kecurigaan umum akan mengarah pada agama Islam. Kecurigaan ini cukup berasalan karena  sebagian besar pelaku bom bunuh diri itu adalah orang-orang Islam. Akhirnya muncul anggapan bahwa Islam adalah agama teroris. Umumnya, para pelaku bom bunuh diri itu menggunakan le...